Afis Mengukir Prestasi dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat se-Jawa Timur

Muhammad Afis, siswa SMA NU 1 Model Sungelebak ini telah berhasil mengukir prestasi. Ia telah mengangkat dan mengharumkan nama baik sekolahnya di kancah Jawa Timur. Siswa yang akrab disapa Afis ini telah menjuarai Lomba Menulis Cerita Rakyat tingkat pelajar se-Jawa Timur tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur.
Lomba ini merupakan agenda tahunan dari Balai Bahasa sebagai wujud pelestarian budaya serta pengembangan dan pemasyarakatan karya sastra. Tujuan utamanya yaitu untuk mendokumentasikan cerita-cerita dari berbagi daerah yang masih berserakan, khususnya cerita rakyat Jawa Timur. Dengan adanya hal ini mak khasanah kearifan lokal Jawa Timur akan tampak di tengah memanasnya pecaturan MEA yang mulai mengglobal.

Sistm lomba ini terbilang tidaklah rumit. Peserta hanya diminta mengirmkan karya cerita rakyat kepada panitia dengan panjang cerita minimal 12 halaman. Karya yang telah terkiri lantas diseleksi ole tim dewan juri yang tediri dari sastrawan, pekerja sen, dan kritikus sastra (akademisi). Yang menjadi kriteria penilaian utamanya yaitu orisinalitas, gaya bahasa, retorika penceritaan dan kompleksitas karya. Dan Afis dengan ceria rakyat andalannya yang berjudl “Legenda Gunung Setro” berhasil dinobatkan sebagai jara harapan ketiga dala lomba tersebut.
“Antara percaya dan tidak percaya. Ini bagai sebuah mimpi. Karya saya masuk dalam atagori juara harapan ketiga. Ini hal yang luar biasa. Pasalnya saya harus berjuang menyishkan kurang lebh 400 cerita rakyat dari para penulis Jawa Timur. Ini sebuah anugerah bagi saya. Alhadulillah.” ungkap Afis, pemuda kelahiran 17 tahun yang lalu ini.
Cerita rakyat ini berisah tentan seorang pemda yang bernama Setro. Saat itu ia tengah beburu di hutan namun mlakukan ksalahan yang tidak disengajanya. Kesalahnnya yaitu membunuh hewan kesayangan Sang Penunggu Hutan. Ia lalu dihukum dengan sebuah penyakit kulit. Seluruh tubunya melepuh. Lebih dari itu, ia juga harus bersedia mejadi penuggu hutan. Sejak saat itulah, Setro tidak pulang dan tinggal di hutan, di atas sebuah gunung sembari melakukan tapa brata. Dan hingga sekarang gunung yang dijadikan tempat tapa brata Setro itu dikenal dengan sebutan “Gunung Setro”.
Cerita ini mengambil setting daerah pantura Lamongan. Tepatnya Desa Bluri Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan. Cerita ini merupakan cerita rakyat asli dari desa penulis sendiri.

“Meski baru haya sebatas juara harapan ketiga, tapi ini hal yang membanggakan bagi saya. Paling tidak saya tlah meorehkan tinta perak nama SMA NU 1 Model di tingkat Jawa Timur. Saya berjanji, saya aka beusaha keras untuk menjadi lebih baik lagi dengan mengasa segenap kemampuan yang saya miliki. Dan terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru yang tlah meneteskan keringat untuk membimbing saya hingga sampai tahap ini.” tambahnya.

0 comments:

Post a Comment

 

Agenda

25/06/2013 Perkemahan
01/07/2013 Pelepasan Siswa Kelas 3
08/07/2013 Tes Masuk Siswa Baru 2013