Muhammad Afis, siswa SMA NU 1 Model Sungelebak ini telah
berhasil mengukir prestasi. Ia telah mengangkat dan mengharumkan nama baik
sekolahnya di kancah Jawa Timur. Siswa yang akrab disapa Afis ini telah
menjuarai Lomba Menulis Cerita Rakyat tingkat pelajar se-Jawa Timur tahun 2015
yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur.
Lomba ini merupakan agenda tahunan dari Balai Bahasa sebagai
wujud pelestarian budaya serta pengembangan dan pemasyarakatan karya sastra.
Tujuan utamanya yaitu untuk mendokumentasikan cerita-cerita dari berbagi daerah
yang masih berserakan, khususnya cerita rakyat Jawa Timur. Dengan adanya hal
ini mak khasanah kearifan lokal Jawa Timur akan tampak di tengah memanasnya
pecaturan MEA yang mulai mengglobal.
Sistm lomba ini terbilang tidaklah rumit. Peserta hanya
diminta mengirmkan karya cerita rakyat kepada panitia dengan panjang cerita
minimal 12 halaman. Karya yang telah terkiri lantas diseleksi ole tim dewan
juri yang tediri dari sastrawan, pekerja sen, dan kritikus sastra (akademisi). Yang
menjadi kriteria penilaian utamanya yaitu orisinalitas, gaya bahasa, retorika
penceritaan dan kompleksitas karya. Dan Afis dengan ceria rakyat andalannya
yang berjudl “Legenda Gunung Setro” berhasil dinobatkan sebagai jara harapan
ketiga dala lomba tersebut.
Cerita rakyat ini berisah tentan seorang pemda yang bernama
Setro. Saat itu ia tengah beburu di hutan namun mlakukan ksalahan yang tidak
disengajanya. Kesalahnnya yaitu membunuh hewan kesayangan Sang Penunggu Hutan.
Ia lalu dihukum dengan sebuah penyakit kulit. Seluruh tubunya melepuh. Lebih
dari itu, ia juga harus bersedia mejadi penuggu hutan. Sejak saat itulah, Setro
tidak pulang dan tinggal di hutan, di atas sebuah gunung sembari melakukan tapa
brata. Dan hingga sekarang gunung yang dijadikan tempat tapa brata Setro itu
dikenal dengan sebutan “Gunung Setro”.
Cerita ini mengambil setting daerah pantura Lamongan.
Tepatnya Desa Bluri Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan. Cerita ini merupakan
cerita rakyat asli dari desa penulis sendiri.
“Meski baru haya sebatas juara harapan ketiga, tapi ini hal
yang membanggakan bagi saya. Paling tidak saya tlah meorehkan tinta perak nama
SMA NU 1 Model di tingkat Jawa Timur. Saya berjanji, saya aka beusaha keras
untuk menjadi lebih baik lagi dengan mengasa segenap kemampuan yang saya
miliki. Dan terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru yang tlah meneteskan keringat
untuk membimbing saya hingga sampai tahap ini.” tambahnya.






0 comments:
Post a Comment